Pada Sidang Umum PBB ke 68 lalu (24/9), Presiden Brasil, Dilma Rouseff, mengecam keras aksi spionase yang dilakukan oleh Amerika Serikat (AS) terhadap negerinya. Dalam pernyataanya disebutkan "tidak dapat diterima aksi ilegal yang dilakukan secara berulang-, dan seolah-olah hal itu merupakan aksi yang normal dilakukan".
Pernyataan keras juga datang dari Kanselir Jerman, Angela Merkel. Bahkan kemarahan sang kanselir secara langsung disampaikan kepada Barack Obama, setelah terungkapnya aksi penyadapan terhadap telepon seluler pribadi Merkel yang dilakukan oleh Agensi Keamanan Nasional AS (NSA), melalui fasilitas kedutaan AS di Berlin. Belakangan terungkap pula aksi penyadapan terhadap para pemimpin negara lain, seperti Perancis, Spanyol, Mexico dan Indonesia.
Aksi spionase oleh NSA ini terbongkar setelah Edward Snowden, mantan analis badan rahasia AS yang membelot, membocorkan kepada publik tentang aksi spionase negeri Paman Sam melalui surat kabar Inggris,The Guardian.
Efek Spionase
Dalam pergaulan internasional segala bentuk aksi spionase tidak dapat diterima, apapun alasannya. Belajar dari perang dingin (1947 - 1991) yang sejatinya bukan hanya perang antar blok negara penganut ideologi komunis dan kapitalis, namun juga merupakan rivalitas antar berbagai badan dinas rahasia (Historia Universal Contemporanea, Pelai Pages i Blanch, 2013). Pada masa itu, cara kerja dan operasi yang dilakukan oleh sejumlah badan rahasia (KGB dan CIA) hampir selalu menggunakan aksi spionase dan infiltrasi. Akibatnya, muncul kecurigaan antar negara yang memicu ketegangan dalam skala global.
Dalam konteks hubungan internasional dan diplomasi, paling tidak ada beberapa efek dari aksi spionase. Pertama, spionase merupakan tindakan ilegal yang mengancam hak asasi manusia dan kedaulatan negara. Jelas sekali, bahwa spionase melanggar Pakta Internasional mengenai Hak Sipil dan Politik pasal 12 dan Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia pasal 17, atas hak individu untuk mendapatkan perlindungan privasi dan kebebasan dari segala macam intervensi ilegal terhadap diri individu itu sendiri, keluarganya, tempat tinggalnya, dan dalam hubungan korespondensi. Demikian halnya bahwa spionase juga melanggar kedaulatan negara yang menjadi objek operasi, karena cakupan operasinya yang lintas negara.
Kedua, spionase membawa efek meningkatnya kecurigaan dan merusak kepercayaan antar negara. Dalam kasus penyadapan saluran telekomunikasi beberapa pemimpin negara oleh NSA, membawa dampak hubungan diplomatik antara AS dengan negara-negara di kawasan Uni Eropa, Amerika Latin, dan Asia menjadi merenggang.
Brasil dengan tegas akan meningkatkan upaya dalam membangun sistem dan mekanisme perlindungan baru atas privasi data warga negaranya melalui pemberlakuan undang-undang yang lebih ketat. Selain itu, protes keras dari Jerman dan Spanyol dilakukan dengan memanggil duta besar AS untuk memperoleh penjelasan terkait penyadapan terhadap beberapa pejabat publiknya.Hal serupa dilakukan oleh Indonesia terhadap duta besar Australia dalam kasus yang sama.
Ketiga, meregangnya hubungan diplomatik dan meningkatnya kecurigaan memicu pengembangan teknologi keamanan yang lebih canggih dan mutakhir oleh dinas rahasia masing-masing negara (cyber war). Perang di jagad maya akan semakin "lazim" terjadi dan dipastikan efek merusaknya tidak kalah dengan perang fisik. Bukan tidak mungkin, dengan dunia yang semakin terkoneksi melalui jaringan internet, peri kehidupan manusia bisa ikut terancam.
Urgensi Traktat Anti-spionase
Melihat efek dari aktivitas spionase tersebut, perlu langkah nyata dari komunitas internasional untuk segera membuat aturan yang mencegah aksi spionase terus terjadi.Langkah Brasil dan Jerman yang mengusulkan resolusi atas perlindungan hak atas privasi di era digital, melalui Komisi Hak Asasi Manusia di Sidang Umum PBB harus dipandang sebagai langkah maju dan pintu masuk untuk melegalkan resolusi ini menjadi aturan yang lebih mengikat. Aturan disini dapat diartikan dengan penetapan traktat anti-spionase.
Ada beberapa makna penting penetapan traktat anti-spionase. Pertama, traktat diatur oleh hukum internasional, sehingga memiliki cakupan yang luas dan merupakan alat untuk membangun kerjasama yang mengedepankan perdamaian antar bangsa. Kedua, dari sudut pandang hukum, sampai sekarang belum ada aturan tertulis di lingkup internasional yang melarang kegiatan spionase antar negara, sehingga tidak ada sanksi hukum bagi negara yang melakukannya. Ketiga, traktat memuat hak dan kewajiban serta memiliki kekuatan hukum bagi negara yang telah meratifikasi maupun yang belum meratifikasi sejauh traktat itu mengandung aturan yang lazim, merepresentasikan kepentingan bersama oleh sekumpulan negara yang memenuhi syarat representatif, dan terlembaga dalam organisasi internasional (Curso de Derecho Internacional Público y Organizaciones Internacionales, José A. Pastor Ridruejo, 2013)
Mustahil membangun hubungan diplomasi yang harmonis jika aksi spionase masih dilakukan. Karena itu melalui traktat anti-spionase ini diharapkan hubungan antar negara lebih mengedepankan rasa saling percaya, jauh dari prasangka dan curiga.
martes, 5 de noviembre de 2013
sábado, 31 de agosto de 2013
Black
I know someday you'll have a beautiful life,
I know you'll be a star in somebody else's sky,
But why, why, why can't it be, can't it be mine?
(Black, Ten Album 1991)
Andaikan saja Eddie Vedder berada didekat saya saat ini, ingin sekali menanyakan apa yang dia rasakan saat menulis Black. Perasaan seperti apa yang berkecamuk didalam hatinya saat itu, sampai bisa menciptakan lagu sekelam ini. Atau barangkali pertanyaan mengenai kejadian/peristiwa yang dia alami dan kemudian memberinya inspirasi untuk menulis lirik Black yang begitu muram. Pasti ada alasan mengapa lagu ini penuh dengan rasa kehilangan yang begitu dalam, tentang kenangan indah yang hilang, tentang satu pertanyaan besar yang entah kapan menemukan jawabannya.
Tidak ada alasan khusus mengapa saya tiba-tiba menulis opini bebas tentang lagu ini. Terlintas begitu saja di dikepala saat memainkan Black dengan gitar akustik 5 strings(satu senarnya putus..hehe). Kesan yang muncul ketika saya mendengar lagu ini pertama kali adalah how cruel life is! Apalagi dibawakan dengan vokal bariton ala Eddie Vedder yang berat, nuansa muram dan derita kehilangan begitu terasa mewarnai seluruh lagu. Perhatikan saja sebaris liriknya berikut ini,
All the love gone bad, turned my world to black
Tattooed all I see, all that I am, all I'll be …
Tapi bagi saya meski bertutur soal pedihnya kehilangan ini bukanlah lagu cinta berhias romansa. Buktinya, paling tidak hanya ada satu kata “love” tertulis di lagu ini. Disamping itu, kejeniusan Eddie cs meng-aransemen Black membuat siapapun yang mendengarkannya, tidak perlu merasa muak dengan kisah cinta yang mengharu biru.
Dan setelah bait terakhir lagu atau menjelang fade out, Eddie sering menambahkan sebaris lirik ini saat Pearl Jam memainkan Black secara live …we belong together…together… Yang menurut saya, ini lebih terdengar seperti ratapan rasa kehilangan yang begitu dalam.
lunes, 26 de agosto de 2013
…And Metallica for All
“Ngapain lu nonton Metallica, emang lu
ngerti musiknya?”
Pertanyaan
bernada sinis ini berasal dari salah satu kolega beberapa hari yang lalu. Tentu
saja pertanyaan ini ditujukan kepada saya. Pertanyaan sampah!
Pikir saya saat itu. Tapi buru-buru saya buang umpatan-umpatan yang
hampir saja meluncur dibalik lidah. Atas
nama etika berkomunikasi saya tetap mencoba menjawab pertanyaan ini sesopan
mungkin. Maklum, kolega yang satu ini usianya jauh lebih tua diatas saya.
“Oh, gua udah dengerin musiknya Metallica
dari SMP Mas. Waktu jaman kaset masih pake pita” jawab saya setengah
bercanda. Rupanya jawaban ini membuatnya
terdiam sejenak. Lalu, entah paham atau tidak dia hanya bergumam “Wah, udah lama juga ya. Saya sih lebih suka musik pop, jadi gak suka
sama yang metal-metal gitu” D**n you! (keluar juga deh curahan
hati…hehe)
Tapi saya harus mengakui bahwa akhirnya pertanyaan
ini membuat saya untuk kembali mengingat pada satu era lebih dari satu dekade
lalu. Satu era dimana banyak muncul karya
musik yang “pantas buat didengar”. Dan perkenalan saya dengan Metallica terjadi
saat itu.
Usia
saya masih 13 tahun. Dan tidak perlu waktu lama buat mengenal musik dari punggawa
heavy metal ini. Saat itu masih banyak
radio yang rajin memutar lagu cadas dari Kirk
Hammet cs dan juga MTV yang masih rajin menayangkan video clip mereka. Ditambah lagi salah seorang kerabat yang
memang doyan banget sama musik-musik cadas. Jadilah setiap pagi kuping dipaksa
buat menikmati sajian musik “gedombrang-gedombreng”,
istilah yang dipakai Ibu saya buat mendefinisikan jenis musik ini. Efek “sarapan
pagi spesial” ini membuat saya cepat mengenal “ Sad but True” atau “The
Unforgiven”. Saya ingat, dulu girang banget kalo bisa melihat video clip Metallica nongol di MTV.
Maklumlah, jaman itu internet apalagi Youtube
belum dikenal seperti sekarang. Jadi praktis hanya lewat surat kabar atau majalah serta siaran radio dan
televisi akses informasi mengenai Metallica diperoleh. Berita mengenai
kerusuhan yang terjadi pada konser mereka pada tahun 1993 silam, saya dapat
dari Majalah Tempo. Kerusuhan yang membuat Pak Harto naik pitam kala itu. Porsi
pemberitaannya pun tidak banyak, kalah dengan berita soal Perang Teluk yang
memang menyita perhatian media massa diseluruh dunia.
Minimnya
media untuk mengakses informasi terkini tentang Metallica tak
menyurutkan minat untuk mengkoleksi álbum mereka. Satu persatu album pun terbeli dari uang hasil
bongkar celengan dan malak pas lebaran!. Kill `em All menjadi koleksi pertama yang nangkring di rak kaset.
Formatnya masih kaset pita. Menyusul kemudian ..And Justice for All, Black Album, Load, dan Reload. Pas masuk
SMA, gabung sama kawan-kawan yang ternyata punya irama yang sama, Rock!. Mulailah coba nongkrong di studio
musik dan memainkan satu-dua lagu milik Metallica macam Enter Sandman atau Fade to
Black. Sampai-sampai memilih membawakan lagu Nothing Else Matters didepan kelas saat ujian mata pelajaran
kesenian! Yeah! \m/
(Dok: www.tempo.com)
It has been
20 years man!
Kerusuhan yang terjadi pada konser Metallica di
Stadion Lebak Bulus 20 tahun silam memang tidak begitu saja dilupakan. Jadi enggak heran kalau isu keamanan
menjadi perhatian utama pihak penyelanggara yang menggelar konser Metallica
pada Minggu (25/8) malam kemarin. Bahkan Blackrock
Entertainment selaku promotor menerjunkan 3.000 pasukan pengamanan selama
konser berlangsung. Pengamanan yang ketat memang terasa mulai dari pintu masuk.
Nampaknya penyelenggara enggak mau kecolongan lagi kali ini.
Saya sih
enggak mau ambil pusing soal ketatnya pengamanan. Saya cuma mau
bersenang-senang bareng 55.000 metalheads
yang kemarin sore datang ke Gelora Bung Karno. Sebagian besar dari mereka
tongkrongannya memang jauh dari kesan “manis”. Tapi ditengah cuaca Jakarta yang
memang lagi panas-panasnya, dan diantara barisan antrian tiket yang entah
dimana ujungnya saya masih bisa merasakan semangat sportifitas para metalheads buat berperilaku tertib. Tampang sih boleh gahar, tapi tetap sadar
bahwa perilaku tertib itu indah.
So, lupakan bengisnya kerusuhan 20 tahun silam. Kesiapan
yang matang dari penyelenggara dan sikap penonton yang asyik menjadikan hajatan
metal kemarin menjadi momen yang meninggalkan kesan tersendiri. Tidak hanya
buat para metalheads, tapi juga buat
Metallica. “I can`t believe it. It has
been twenty years man!” seru James Hetfield, sang frontman yang masih
tampak gahar di usianya yang menginjak kepala 5. Malam itu GBK memang milik
Metallica. Energi yang mereka semburkan dari 18 lagu yang mereka mainkan selama
90 menit berhasil membuat tangan-tangan mengepal dan terangkat keatas,
berteriak, dan kompak koor bersama.
Hajatan dibuka dengan hantaman Hit the
Lights, Master of the Puppets, dan
Fuel. Penonton yang semula duduk manis langsung ambil posisi tempur, head banging serempak! Dengan reputasi sebagai band metal kelas dunia,
Metallica sudah paham benar bagaimana mengendalikan emosi massa. Saat energi
massa yang sudah lumayan terkuras, mereka mampu mengembalikan semangat lewat Enter Sandman. Gemuruh massa sontak
kembali beringas. Sepanjang lagu kompak massa koor bersama. Dan menurut
saya, inilah klimaks hajatan metal malam ini.
Diakhir panggung, Lars Ulrich sempat berseru “We will back again Jakarta” serunya yang
disambut dengan tepuk tangan para metalheads.
Seruan yang menurut saya memberi harapan, bahwa tidak perlu menunggu 20 tahun
untuk mereka kembali menggelar panggung di Indonesia.
viernes, 16 de agosto de 2013
Romo
Algún día pasado visite un amigo viejo. Era un mentor en ciencia periodística cuando yo era el editor del tabloide local. Trabajemos juntos para manejar este tabloide hace 3 años. Le dicen los compañeros como “Romo ” debido a su antecedentes académicos católicos.Romo es el nombre para la santa en la tradición católica. Cuando era joven estudiaba en el seminario católico para que fuera sacerdote. Sin embargo en el medio de su estudio se decidió para dejar el seminario para ser el periodista. Esta opción le da una gira sin final.
Durante dicho tiempo no tengo duda que él es una persona con tanta experiencia en periodismo. Fue el periodista de un periódico local que ya escribió varias noticias con respecto a la política internacional. Hace 20 años se dedico su vida para buscar las informaciones vinculadas a los temas de la diplomacia así como los de asuntos exteriores. Por tanto tuvo una buena red social entre los consulados extranjeros en Indonesia así como obtuvo alguna oportunidad para irse al extranjero de informar las jornadas internacionales. A pesar de no ser el periodista más sigue escribiendo su idea en varios periódicos.
Me acorde que me pidió para acompañarlo en varias jornadas que se celebraron por las embajadas. El motivo de venir no fue solamente para entrevistar con los diplomáticos sino a ampliar la red social. “A ser un buen periodista no se trata de poder escribir una noticia fantástica. Lo más importante es ganar amigo mucho más. Es porque trabajamos con una red social” me dijo. Me dio muchas lecciones con respecto al periodismo con las que aprendo para ser un periodista con una habilidad profesional. Gracias Romo…
Lucha Por Tus Sueños (primer parte)
De verdad estaba muy contento cuando me ha puesto en contacto el presidente de la Asociación del Estudiante Indonesio en España. Me ofreció una oportunidad de escribir un artículo sobre la experiencia personal de preparar el estudio con una beca del gobierno indonesio. Desde luego estoy interesado en esta oferta. Puedo compartir toda mi experiencia tanto sobre el paso de solicitar unas becas como sobre la preparación de estudios. Deseo que pueda proveer este articulo una información profunda para los estudiantes indonesios que quieren estudiar a la universidad extranjera, particularmente los que estudiaran a la universidad española.
Pues, se comenzó todo por un sueno de estudiar a la universidad extranjera. Hace 4 años pasados tenía muchas ganas para estudiar al centro de estudios en otros países. Fue algún programa de beca con lo que yo deseaba estudiar máster a un centro de estudio en europea. Solicite todo eso pero la suerte no venia conmigo todavía. En ese momento por lo menos había siete solicitudes de beca y todas se rechazaron! Me sentía tan deprimido. Ya hice de todo pero nada funciono, me daba por vencido. Yo creía que no me merecía ninguna beca, no merecía nada!
Los fracasos me hacían olvidar los sueños. Todo lo que quería hacer fue trabajar para ganar mucho dinero y nada más. En ese momento pensaba que ya perdí tanto tiempo para nada. Hasta un día me llego un amigo que me decía sobre su éxito en obteniendo una beca completa para estudiar máster en la universidad española. Yo recuerdo cuando me decía “nada es imposible si tú creas en tu sueño”. Esta palabra me provoco para luchar de nuevo. Puede obtener una beca, porque no puedo?
Desde entonces tenía mucho ánimo para buscar toda información con respecto a la beca. Encontré una energía nueva para hacer todo. Fue una energía positiva con la que puedo realizar los trabajos sin descanso. Yo empecé con una búsqueda de la información tanto por internet como por una red social del estudiante que están estudiando en los países europeos.
En primer paso hay que recordar que poner en contacto con la universidad es imprescindible. Según mi experiencia lo más importante es poner en contacto con los profesores que serán los preceptores durante el estudio y sobre todo con lo que puede tener el solicitante una carta de aceptación de la universidad. Cabe mencionar que el proceso de obtener esta carta será diferente entre las universidades. Hay una universidad que solamente pide al solicitante algunos documentos académicos vía el formulario online sin la prueba escrita o la entrevista pero a otro lado hace falta de llevar a cabo la prueba escrita/ entrevista en alguna universidad para obtener la carta de aceptación. Esta carta se funcionara a la vez el solicitante completa los documentos exigidos. Tendrá prioridad de recibir una beca el solicitante que haya tenido esta carta... (Ser continuado)
viernes, 28 de junio de 2013
Memperkuat Nilai Kebangsaan Melalui Kepemimpinan yang Berkapasitas dan Berkarakter
Memasuki hari ke tiga program kepemimpinan LPDP 2013 Batch 2 (28/6), tema materi semakin beragam dan "berat". Sesi pertama pagi, peserta diajak untuk memperdalam nilai-nilai kebangsaan Indonesia yang dipaparkan oleh Mayjen TNI Purnawirawan Imam Marsudi dari Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas). Pemaparan dibuka dengan penjelasan bahwa Indonesia merupakan bangsa majemuk, beragam, yang disatukan dengan konsensus. Ada empat konsensus dalam kehidupan bernegara, yaitu Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Bhineka Tunggal Ika.
Menurut Imam, pemantapan nilai-nilai kebangsaan itu penting karena akan menguatkan kesadaran kebangsaan untuk membangun tanah Indonesia dan menumbuhkan kecintaan dan mengutamakan kepentingan bangsa sendiri.
Diskusi sempat rehat sejenak untuk memberikan kesempatan kepada peserta menikmati coffee break. Tak lama, diskusi dilanjutkan dengan sesi kedua. Kali ini narasumber yang diundang adalah salah seorang sosiolog dari Universitas Indonesia, Imam B Prasodjo. Tokoh yang kerap tampil di layar kaca ini, memberikan materi mengenai kepemimpinan. Menurut Imam, dua hal yag paling penting dimiliki oleh seorang pemimpin adalah kapasitas dan karakter. Kapasitas penting dimiliki karena merupakan kemampuan untuk menyelesaikan permasalahan, sedangkan karakter akan menentukan sebuah tindakan. Pemimpin sendiri berarti seseorang yang memiliki kemampuan yang menggerakkan orang lain untuk ikut serta dalam kegiatan yang terencana dengan visi untuk melakukan perubahan nyata kearah kehidupan bersama yang lebih baik dengan memberikan motivasi tanpa kekerasan.
Seorang pemimpin bangsa itu harus memiliki visi kebangsaan. Karena itu untuk menumbuhkan visi kebangsaan pemimpin membutuhkan paling tidak beberapa prasyarat, yaitu civic nationalism, multikulturalisme, inter-group understanding, serta mediation & conflict resolution. Selain itu karakter yang perlu dimiliki oleh seorang pemimpin paling tidak adalah adil, jujur dan bertanggung jawab.
Seorang pemimpin bangsa itu harus memiliki visi kebangsaan. Karena itu untuk menumbuhkan visi kebangsaan pemimpin membutuhkan paling tidak beberapa prasyarat, yaitu civic nationalism, multikulturalisme, inter-group understanding, serta mediation & conflict resolution. Selain itu karakter yang perlu dimiliki oleh seorang pemimpin paling tidak adalah adil, jujur dan bertanggung jawab.
jueves, 27 de junio de 2013
Memberantas Korupsi, Integritas dan Kepemimpinan
Pada hari kedua program kepemimpinan calon penerima beasiswa LPDP batch 2 materi yang diberikan cukup istimewa. Mengenai pemberantasan korupsi di Indonesia. Materi yang sangat relevan dengan kondisi kekinian bangsa, apalagi bila dihubungkan dengan krisis kepemimpinan nasional saat ini. Tak tanggung-tanggung, narasumber yang dihadirkan adalah Erry Riyana Hardjapamekas, mantan Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi RI. Peserta tampak antusias mengikuti sesi pelatihan kali ini.
Pada pemaparannya, Erry banyak mengupas mengenai nilai, moral dan etika yang merupakan dasar dalam rangka menegakkan integritas. Menurutnya nilai dan etika merupakan motor utama dalam menggerakkan sebuah orgnasisasi dalam mencapai tujuannya. Akan tetapi penerapan nilai, moral dan etika tidak mampu hanya dilakukan oleh seseorang atau organisasi secara sendiri. Penerapannya membutuhkan partner yang memiliki nilai, moral dan etika yang sama dengan sesorang atau organisasi tersebut.
Namun pada kenyataanya penerapan nilai, moral dan etika tidaklah semudah seperti membalik telapak tangan. Sudah menjadi rahasia umum bahwa masih banyak terjadi penyelewengan yang dilakukan oleh aparat pemerintah maupun sektor swasta serta oleh masyarakat sendiri. Menurutnya penyelewengan terjadi dikarenakan adanya 3 hal, yaitu peluang (opportunity), rasionalisasi perilaku/ pembenaran, dan insentif/ pressure. Dalam konteks penyelewengan yang mengarah kepada tindakan korupsi penyebabnya adalah lemahnya penegakan hukum (law enforcement) dan tidak adanya political will dari para pemimpin.
| Erry Riyana Hardjapamekas (kanan) memberikan materi pemberantasan korupsi pada program kepemimpinan LPDP batch 2, Kamis (27/6) (Dok. Ajat) |
Oleh karena itu pemberantasan korupsi di Indonesia membutuhkan peran kepemimpinan yang kuat dan tegas. Kepemimpinan yang demikian ini dapat terwujud jika terdapat resiko, tanggungjawab, dan keandalan dari pimpinan itu sendiri. Erry memberikan contoh mengenai reformasi birokrasi yang dilakukan diberbagai lembaga negara sebagai salah satu inisiatif kebijakan dalam rangka memberantas korupsi. Erry menambahkan bahwa korupsi merupakan kejahatan luar biasa sehingga diperlukan tindakan yang sangat tegas dan merupakan tanggungjawab semua elemen bangsa.
Sesi mengenai pemberantasan korupsi tidak hanya di isi dengan pemaparan dan diskusi "berat" namun menjadi semakin menarik dengan diskusi mengenai film " Selamat Siang, Rissa" garapan Sha Ine Febriyanti yang merupakan salah satu film yang masuk dalam kampanye anti korupsi "Kita vs Korupsi". Ine yang merupakan sutradara film yang berdurasi 17 menit ini, mengaku bahwa ide ceritanya terinspirasi dari kisah keluarganya sendiri. "Ibu saya sering mendongeng tentang kisah kejujuran Ayah waktu saya kecil dulu. Kisah dalam film ini terinspirasi dari dongeng itu. Ini bukan rekaan, ini benar-benar terjadi" ungkap Ibu dari 3 orang putra ini. Para peserta tampak antusias menonton film ini hingga tuntas. Bahkan pujian dan sanjungan tak henti-hentinya diberikan penonton kepada film ini.
| Sha Ine Febriyanti sutradara film " Selamat Siang Rissa" memberikan pemaparan dalam sesi pemutaran film tersebut di program kepemimpinan LPDP 2013 batch 2 (Dok. Ajat) |
Agenda acara hari kedua dilanjutkan dengan menonton film "Batas" di studio Blitzmegaplex, Pacific Place, kawasan SCBD Jakarta Selatan. Film garapan Rudy Soedjarwo ini dibintangi oleh Marcella Zalianty yang sekaligus didaulat sebagai produser film ini. Bercerita tentang kehidupan masyarakat suku Dayak di pedalaman pulau Kalimantan, yang terjebak kemiskinan dan kebodohan. Karena alasan itu, Jaleswari (Marcella Zalianty) ditugaskan oleh perusahan tempatnya bekerja untuk meneliti kegagalan program Corporate Social Responsibility (CSR), yaitu mengapa para guru yang dikirim untuk mengajar didaerah tersebut memutuskan berhenti dan pulang kembali. Dalam tugasnya Jaleswari dibantu seorang guru desa (Adeus) untuk mengajar anak-anak desa. Dalam perjalanannya, pengabdian untuk mengajar murid-murid desa ternyata banyak ditentang oleh para penduduk kampung itu sendiri. Salah satu yang paling menentang adalah Otig, seorang kepala gerombolan perdagangan manusia yang bersekongkol untuk mengusir Jaleswari dari kampung tersebut karena akan mengancam bisnis haramnya. Konflik mencapai puncak saat penduduk terprovokasi untuk mengusir Jaleswari, namun dicegah oleh Panglima, sang kepala suku di desa. Cerita berlanjut dengan ditangkapnya para gerombolan perdagangan manusia oleh Arif, kepala Polisi setempat yang menaruh hati pada Jaleswari.
Selepas pemutaran film, Marcella Zalianty dan Piet Palau berkenan hadir untuk berdiskusi dengan para peserta program kepemimpinan LPDP batch 2. Diskusi berlangsung seru, karena peserta mengaku sangat terinspirasi dengan film yang sarat dengan pesan moral ini. Beragam apresiasi diberikan, bahkan kritik dan masukan terkait dengan proses produksi film pun banyak diberikan. Sesi diskusi diakhiri dengan foto bersama dengan para narasumber dan seluruh peserta program kepemimpinan (TVN)
Suscribirse a:
Entradas (Atom)


